Sudah lama tidak membuka akun website Blogger ini. Terakhir update di tahun 2022. Dimana saat itu aku sudah menikah dan belum aktif bekerja. Alhamdulillah Allah memberikan Rezeki kepada Keluarga Kami, aku lulus tes pada Instansi BKKBN atau sekarang beralih menjadi Kemenduk Bangga (Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga). Aku mulai aktif bekerja di tahun 2023 dan sampai saat ini.
Beberapa hal tentang hidup telah kulewati dalam kurun waktu beberapa tahun kebelakang. Akhirnya tahun 2026 aku mencoba membangunkan diriku yang sempat tertidur terlalu nyaman dengan aktivitas bekerja dan terlalu santai. Sampai aku melupakan sebuah hobby yang pernah aku bangun di Blogger tercinta ini. Banyak kejadian yang memberiku pelajaran, sampai akhirnya jiwa menulis yang tanpa ambisi ini hidup kembali.
Pada tulisan pertamaku ini di tahun 2026 aku ingin memulainya dengan sebuah cerita bijak mengenai Hidup yang Bermakna.
Apa sebenarnya yang bikin hidup terasa lebih bermakna?
Terkadang kita terlalu sibuk untuk mengejar, hingga lupa dengan apa yang sudah kita punya.
Kadang aku sering bertanya kepada diriku sendiri...
"Apa sih yang bikin hidup ini terasa bermakna?"
Dan pertanyaan itu selalu muncul di momen-momen random yaitu saat lagi capek, saat sedang bahagia, atau saat tiba-tiba merasa kosong tanpa alasan.
Lalu perlahan aku tersadar, mungkin makna hidup itu muncul dari hal-hal kecil yang sering kita lewati.
Dan ternyata hal yang bikin hidup terasa lebih bermakna adalah...
👉 Ketika Kita Mulai Banyak Bersyukur.
"Aku tidak punya semuanya, tapi aku punya cukup untuk hari ini."
Rasanya hangat, seperti pelukan yang datang dari diri sendiri.
👉 Menyisakan Sedikit untuk Berbagi
Dan ketika hati mulai merasa cukup. Aku jadi lebih mudah untuk berbagi. Bukan cuma dalam bentuk besar. Terkadang dengan senyuman, perhatian atau kalimat sederhana yang tiba-tiba membuat orang lain merasa senang.
Aneh ya? Semakin kita memberi, semakin hidup terasa bertambah.
👉 Berhenti Membandingkan Diri
Ternyata hidup juga lebih ringan waktu diriku berhenti membandingkan dengan orang lain. Karena aku sadar, setiap orang punya waktu dan jalannya sendiri.
Yang penting bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang berani terus jalan meski pelan.
👉 Memiliki Tujuan
Hidup terasa lebih bermakna ketika kita punya tujuan, sekecil apapun itu.
Seperti kita ingin memperbaiki diri, ingin jadil lebih baik dari hari kemarin. Paling tidak kita bertumbuh 1% setiap harinya.
👉 Belajar Menerima
Dan secara perlahan aku belajar bahwa menerima itu sama pentingnya dengan berjuang. Menerima bahwa tidak semua hal berjalan seperti rencana. Menerima bahwa ada hal yang hilang, ada pintu yang tertutup, ada hal yang tidak bisa dipaksa. Dan itu bukan kegagalan, itu adalah proses tumbuh.
Aku pun belajar memberi ruang untuk diriku sendiri. Menenangkan diri, tidur yang cukup, berhenti sejenak mendengarkan suara hati yang selama ini kalah oleh bisingnya dunia. Ternyata diam juga menyembuhkan.
👉 Belajar Memaafkan
Hidup semakin berarti saat kita berani memaafkan orang lain yang pernah menyakiti, dan juga memaafkan diri ini yang kadang terlalu keras pada diri sendiri.
Rasa ringan yang datang setelahnya. Tidak bisa dijelaskan tetapi itu nyata.
Pada akhirnya aku paham...
Hidup tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk terasa indah.
Makna itu hadir ketika kita bersyukur, merasa cukup, berbagi, berhenti membandingkan diri, mempunyai tujuan kecil, belajar menerima, memberikan ruang untuk istirahat, memaafkan, jujur dan terus berjalan meskipun pelan.
Kalau ini pertama kali kamu baca postingan aku. Hi, I'm Aprilita. Aku suka sharing tentang Self-Development dan proses menjalani hidup dengan terus bertumbuh melalui Blogger kesayanganku ini.
Kalau kalian ingin berproses dan upgrade diri, You're in the rifht account.
Explore lebih banyak kontentku melalui tulisan di Blogger ini.
Selamat Berproses Bersama
Reference:
- Ade, Bagus. 2024. Menjadi Tenang di Dunia yang Berisik. Gagas Media : Jakarta
- Musleh. 2025. Selft -Growth. Musleh: Tiktok
Kurniawan, Gigi. 2016. Produktif dengan Cinta, Dicintai Penduduk Langit dan Dirindukan Penduduk Bumi. Gramedia : Jakarta

Comments
Post a Comment